KENDARI — Universitas Muhammadiyah Kendari, melalui Unit Smart Campus Kendari, telah resmi meluncurkan tiga penelitian inovatif hasil kolaborasi antara dosen dan mahasiswa pada Jumat, 18 April 2026. Ketiga penelitian tersebut dirancang untuk memberikan solusi praktis terhadap permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Peluncuran penelitian ini menandai komitmen institusi dalam mengembangkan ekosistem akademik yang berbasis pada inovasi berkelanjutan. Acara yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan, termasuk dinas pemerintah lokal dan stakeholder industri, dilaksanakan di Auditorium Utama Kampus Smart Campus Kendari, Jalan Ahmad Yani No. 114, Kendari.
Latar Belakang dan Visi Pengembangan Smart Campus
Unit Smart Campus Kendari merupakan bagian integral dari Universitas Muhammadiyah Kendari yang didirikan dengan visi menjadi pusat pengembangan teknologi dan inovasi bagi wilayah Sulawesi Tenggara. Sejak dibentuk pada tahun 2023, unit ini telah mengkonsolidasikan sumber daya akademik dari berbagai fakultas untuk menciptakan penelitian yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat lokal.
“Smart Campus bukan sekadar tentang teknologi digital, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan kecerdasan kolektif untuk memecahkan masalah nyata yang dihadapi masyarakat Kendari dan sekitarnya,” ujar Dr. H. Muhammad Ridho, S.E., M.M., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam sambutannya pada acara peluncuran.
Rektor Ridho menambahkan bahwa penelitian-penelitian yang diluncurkan hari ini adalah hasil dari dedikasi tim yang telah bekerja selama lebih dari delapan bulan. “Kami bangga karena ketiga proyek ini melibatkan tidak hanya dosen senior kami, tetapi juga mahasiswa tingkat akhir yang menunjukkan komitmen luar biasa terhadap inovasi,” lanjutnya.
Tiga Penelitian Inovatif yang Diluncurkan
### 1. Sistem Manajemen Hasil Laut Terdesentralisasi untuk Nelayan Skala Kecil
Penelitian pertama yang diluncurkan adalah “Blockchain-Based Supply Chain Management System untuk Produk Perikanan Lokal Kendari.” Proyek ini dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Hamzah Umar, M.Si., dari Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, bersama mahasiswa semester delapan Program Studi Informatika, Andi Pratama Wijaya.
Sistem ini dirancang untuk membantu nelayan dan petani udang skala kecil mengelola rantai pasokan mereka dengan lebih transparan dan efisien. Melalui aplikasi mobile berbasis blockchain, nelayan dapat mencatat setiap tahap produksi, dari penangkapan hingga penjualan, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen dan nilai jual produk.
“Kendari adalah salah satu pusat produksi perikanan terpenting di kawasan timur Indonesia. Namun, banyak nelayan kami masih mengalami kesulitan dalam pemasaran karena kurangnya dokumentasi yang transparan. Sistem ini akan mengubah itu,” jelas Prof. Hamzah dalam presentasinya.
Andi Pratama Wijaya, mahasiswa yang turut mengembangkan sistem, menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang dengan antarmuka yang sederhana sehingga mudah digunakan oleh nelayan meski memiliki literasi digital terbatas. “Kami telah melakukan uji coba dengan 50 nelayan di Kelurahan Poasia, dan hasilnya sangat positif. Peningkatan harga jual rata-rata mencapai 15 persen karena transparansi yang lebih baik,” ungkapnya dengan antusias.
### 2. Program Pemberdayaan Pertanian Organik Berkelanjutan
Penelitian kedua berfokus pada pengembangan pertanian organik berkelanjutan yang cocok untuk kondisi iklim tropis Sulawesi Tenggara. Proyek berjudul “Integrated Organic Farming System untuk Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani Lokal” ini dipimpin oleh Dr. Siti Nurhaliza, S.P., M.P., dari Fakultas Pertanian.
Program ini melibatkan kolaborasi dengan 15 kelompok tani di lima kecamatan di Kendari, dengan fokus pada tanaman pangan dan hortikultura organik. Mahasiswa dari Program Studi Agronomi dan Agroteknologi turut terlibat aktif dalam pengujian lapangan dan pemberian pelatihan kepada petani.
“Pertanian organik bukan hanya tentang menghindari pestisida kimia, tetapi tentang menciptakan ekosistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan. Melalui penelitian ini, kami ingin menunjukkan bahwa petani lokal dapat meningkatkan pendapatan mereka sambil menjaga kelestarian lingkungan,” papar Dr. Siti Nurhaliza.
Data awal yang diperoleh menunjukkan bahwa penerapan sistem pertanian organik terintegrasi dapat meningkatkan produktivitas lahan hingga 25 persen dalam satu musim tanam pertama. Selain itu, biaya produksi juga berkurang karena berkurangnya penggunaan input kimia buatan.
Putri Maharani, mahasiswa semester enam Program Studi Agronomi yang terlibat dalam penelitian, menceritakan pengalamannya di lapangan. “Awalnya, petani ragu-ragu dengan metode organik karena takut hasil panen berkurang. Namun, setelah melihat hasilnya sendiri, mereka menjadi sangat antusias. Beberapa bahkan ingin memperluas lahan organik mereka,” tuturnya.
### 3. Platform Digital Literasi Keuangan untuk UMKM Kendari
Penelitian ketiga berjudul “Digital Financial Literacy Platform: Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Melalui Teknologi Fintech” dipimpin oleh Dr. Bambang Sutrisno, S.E., M.E., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, bekerja sama dengan tim developer dari Program Studi Sistem Informasi.
Platform ini adalah aplikasi terintegrasi yang menyediakan pelatihan keuangan digital, akses ke layanan perbankan digital, dan koneksi dengan lembaga pembiayaan yang tepat untuk UMKM. Fitur-fitur utama mencakup modul pembelajaran keuangan interaktif, manajemen kas digital, pelaporan pajak yang disederhanakan, dan marketplace untuk produk UMKM.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi lokal Kendari, namun banyak yang masih kesulitan dalam mengelola keuangan bisnis secara profesional. Platform ini kami rancang untuk membawa mereka ke level yang lebih maju dalam adopsi teknologi finansial,” jelaskan Dr. Bambang Sutrisno.
Dalam fase uji coba yang melibatkan 200 UMKM di Kendari, platform ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman pemilik UMKM tentang keuangan digital. Sebanyak 87 persen pengguna melaporkan peningkatan dalam pengelolaan arus kas bisnis mereka setelah menggunakan platform selama tiga bulan.
Muhammad Hafiz, mahasiswa semester tujuh Program Studi Sistem Informasi, menjelaskan bagaimana teknologi ini dikembangkan dengan pendekatan user-centric. “Kami melakukan survei dan focus group discussion dengan lebih dari 100 UMKM untuk memahami kebutuhan spesifik mereka. Hasilnya adalah platform yang benar-benar sesuai dengan kondisi lokal,” katanya.
Dukungan Institusional dan Pendanaan
Ketiga penelitian ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan universitas dan didanai melalui kombinasi dana internal universitas, hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek), serta kontribusi dari mitra industri lokal.
Dr. Ir. Sriwijaya Handoko, M.T., Direktur Unit Smart Campus Kendari, menekankan pentingnya dukungan institusional untuk kesuksesan penelitian ini. “Universitas telah mengalokasikan 3,2 miliar rupiah untuk mendukung penelitian-penelitian strategis tahun ini. Investasi ini bukan hanya untuk publikasi akademik, tetapi untuk menciptakan dampak nyata bagi masyarakat dan industri lokal,” ungkapnya.
Direktur Handoko juga menjelaskan bahwa Unit Smart Campus telah membangun kemitraan dengan 15 institusi industri dan pemerintah untuk memastikan relevansi penelitian dengan kebutuhan pasar. “Kolaborasi ini penting karena penelitian yang bagus harus berujung pada implementasi yang bermanfaat,” tambahnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Diharapkan
Para peneliti memproyeksikan dampak signifikan dari ketiga penelitian ini dalam jangka pendek dan panjang. Untuk sistem manajemen hasil laut, diperkirakan dapat meningkatkan pendapatan nelayan skala kecil hingga 30-40 persen dalam tahun pertama implementasi penuh.
Dari segi pertanian organik, program ini diharapkan dapat menginspirasi minimal 1.000 petani lokal untuk beralih ke sistem pertanian berkelanjutan dalam dua tahun ke depan, dengan potensi peningkatan pendapatan keluarga petani hingga 35 persen.
Sementara itu, platform literasi keuangan digital untuk UMKM ditargetkan untuk menjangkau 5.000 UMKM di Kendari dalam satu tahun pertama, dengan harapan dapat meningkatkan akses pembiayaan formal bagi kelompok usaha ini.
“Jika ketiga program ini berjalan optimal, kami memperkirakan dapat menciptakan dampak ekonomi langsung senilai minimal 150 miliar rupiah per tahun bagi komunitas lokal,” ujar Dr. Bambang Sutrisno dalam kesimpulannya.
Rencana Implementasi dan Diseminasi
Penelitian-penelitian ini tidak akan berhenti pada tahap peluncuran. Tim peneliti telah merencanakan fase implementasi yang komprehensif dengan timeline yang jelas. Untuk setiap proyek, akan ada pilot project yang diperluas secara bertahap ke berbagai wilayah di Kendari dan sekitarnya.
Universitas juga berkomitmen untuk melakukan diseminasi hasil penelitian melalui berbagai saluran, termasuk konferensi akademik internasional, publikasi jurnal, dan workshop praktis untuk stakeholder lokal. “Kami ingin memastikan bahwa penelitian-penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk Kendari, tetapi juga dapat menjadi model untuk wilayah lain di Indonesia,” jelas Rektor Ridho.
Penutup: Menuju Universitas Berbasis Inovasi
Peluncuran tiga penelitian inovatif ini menandai transformasi Universitas Muhammadiyah Kendari menjadi institusi pendidikan yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan industri. Melalui Unit Smart Campus, universitas membuktikan bahwa akademia dapat menjadi katalis perubahan positif dalam ekonomi dan sosial masyarakat lokal.
“Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju universitas yang berbasis pada inovasi berkelanjutan dan keterlibatan komunitas yang mendalam. Kami yakin bahwa dengan dukungan semua pihak, penelitian-penelitian ini akan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Sulawesi Tenggara,” tutup Rektor Muhammad Ridho dengan optimis.
Ketiga penelitian ini akan terus dimonitor dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Universitas juga akan membuka kesempatan bagi mahasiswa dan dosen lain untuk bergabung dalam tim-tim penelitian ini, sehingga semakin banyak sumber daya akademik yang dapat difokuskan pada inovasi lokal yang berdampak.
—Selesai—